Di dunia yang kompetitif saat ini, fokus orang tua tampaknya lebih tertuju pada bagaimana membesarkan anak-anak yang cerdas, dibandingkan dengan membesarkan individu yang berwawasan luas. Anak yang berwawasan luas tidak hanya berprestasi baik dalam bidang akademik, tetapi juga menjaga hubungan yang sukses dengan orang-orang di sekitarnya, sebuah pendekatan yang akan membawanya jauh menuju kesuksesan.
Tekanan pada Anak-Anak untuk Menjadi yang Terbaik
Sebagai orang tua, tidak ada yang bisa memberi Anda kebahagiaan sebesar keberhasilan anak-anak Anda dalam usaha mereka, memberi Anda kesempatan untuk memamerkan kemenangan mereka! Tetapi meskipun rapornya yang bagus mungkin memberi Anda kebahagiaan yang luar biasa, anak Anda mungkin tidak merasa tenang dalam upayanya meraih nilai tertinggi di kelasnya. Karena meningkatnya tingkat persaingan di dunia saat ini, anak-anak terus-menerus berada di bawah tekanan untuk berprestasi. Meskipun mendidik anak-anak untuk sukses dan mendorong mereka untuk mencapai potensi mereka adalah tanggung jawab orang tua dan mutlak diperlukan, mendorong mereka untuk mencapai ketinggian yang tidak realistis adalah apa yang membuat mereka menyerah di bawah tekanan.
Kesuksesan tidak bisa hanya dikaitkan dengan kecerdasan semata.
Kesuksesan sering dikaitkan dengan kecerdasan, yang merupakan kesalahpahaman. IQ seorang anak biasanya mengukur kemampuannya untuk memecahkan masalah teoritis, yang berarti bahwa IQ tidak mengukur kecerdasan emosional, imajinasi, atau kreativitas anak. Sebuah studi yang dilakukan selama lebih dari tiga dekade dan dilaporkan dalam Scientific American menunjukkan bahwa anak-anak yang percaya bahwa mereka pintar tidak melihat ruang untuk berkembang. Hal ini membatasi pembelajaran dan kemungkinan perkembangan mereka; sedangkan mereka yang memahami bahwa kecerdasan mereka harus terus ditantang dengan pembelajaran baru memiliki ‘mentalitas pertumbuhan’ yang lebih besar, yang berarti mereka fokus pada peningkatan diri dan beradaptasi dengan situasi di sekitar mereka. Oleh karena itu, kecerdasan adalah faktor bonus; memiliki kualitas lain, baik sosial maupun emosional, di atas kemampuan intelektualnya yang diukur dalam bentuk IQ, seringkali membantu anak bekerja ke arah tujuannya dan berhasil dalam hal itu. Oleh karena itu, membesarkan anak yang sukses membutuhkan lebih banyak tanggung jawab daripada sekadar membantu meningkatkan kecerdasan mereka.
Efek Samping dari Tekanan untuk Menjadi Anak yang Serba Bisa
Saat ini, anak-anak tidak hanya diharapkan untuk unggul dari teman sebaya mereka dalam studi, tetapi juga di setiap bidang, baik itu olahraga, atau kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler. Memberikan tekanan yang berlebihan pada anak untuk berprestasi dalam segala hal yang diikutinya, menambah beban yang sudah menekan pundak kecilnya. Yang lebih buruk adalah ketika orang tua hanya fokus pada catatan prestasi akademik anak mereka, tanpa memeriksa apakah anak-anak mereka tumbuh menjadi orang baik; cerdas, praktis, dan memiliki kemauan untuk membantu orang lain. Tekanan berlebihan dari orang tua juga dapat menimbulkan masalah-masalah berikut dalam jangka panjang:
- Jika anak Anda merasa tidak mampu mengecewakan Anda, ia mungkin merasa perlu menggunakan metode yang tidak etis untuk mencapai hasil yang diinginkannya, seperti mencontek dalam ujian untuk memastikan nilai yang lebih tinggi. Hal ini, pada gilirannya, dapat menyebabkan masalah serius seiring bertambahnya usia, seperti penyalahgunaan alkohol dan narkoba jika stres yang dialaminya terlalu tinggi untuk ditangani.
- Ia belajar untuk patuh, tetapi tidak untuk mengambil keputusan sendiri. Ketika seorang anak tunduk pada tuntutan orang tuanya untuk terus belajar dan mengikuti jalan yang mereka tetapkan untuknya dalam segala hal, mereka belajar untuk menanggapi perintah, tetapi bukan situasi. Karena dunia nyata tidak datang dengan petunjuk yang sudah jadi, hal itu menantang anak-anak ini di masa depan ketika mereka harus membuat pilihan sendiri dan mengandalkan diri mereka sendiri.
- Ketika Anda terlalu terlibat dalam setiap aktivitas anak Anda, Anda membatasi partisipasinya dalam aktivitas tersebut. Hal ini menghilangkan kendali anak atas situasi tersebut dan pembelajarannya pun terhambat. Di masa depan, hal ini dapat menyebabkan penilaian yang buruk, atau melampiaskan emosi dengan tidak mengendalikan impulsnya.
- Efek samping potensial lain dari tekanan orang tua adalah ketika anak tumbuh dengan mentalitas bahwa kegagalan bukanlah pilihan. Ketika pertumbuhan bukan fokus dalam pikiran anak, ia menolak untuk menerima kekalahan dalam apa pun yang dilakukannya. Hal ini menjadi lebih berbahaya di kemudian hari, karena bahkan ketika ia berada di ambang kegagalan, ia mungkin merasa terjebak tetapi lebih memilih menderita daripada mengakui bahwa ia sedang dalam kesulitan.
- Tekanan terus-menerus sepanjang masa kanak-kanak juga dapat bermanifestasi pada anak sebagai kebutuhan akan validasi. Harga dirinya ditentukan oleh pengakuan orang lain atas pekerjaannya, bukan oleh jumlah dan kualitas pekerjaan yang telah ia lakukan. Kritik apa pun yang diberikan kepada orang tersebut dapat dianggap merusak, alih-alih sebagai motivasi untuk berbuat lebih baik.
Lakukan dengan Benar – 10 Tips untuk Membesarkan Anak yang Berwawasan Luas, Cerdas, dan Sukses
Seseorang yang berwawasan luas adalah seseorang yang mampu atau berpengetahuan tentang berbagai hal, dan juga sukses dalam kehidupan pribadinya. Tekanan dan perbandingan, meskipun memberikan motivasi negatif, tidak akan membantu mengeluarkan potensi terbaik anak-anak Anda saat mereka berjuang untuk meraih kesuksesan; hal itu juga tidak dapat menjamin bahwa mereka akan tumbuh menjadi individu yang berwawasan luas. Ada banyak metode yang lebih sehat untuk membesarkan anak-anak Anda agar menjadi orang yang cerdas dan baik hati, yang menjadi aset bagi masyarakat.
1. Jadilah Sistem Pendukung Terkuat bagi Si Kecil Anda
Ciptakan lingkungan yang kondusif di rumah agar anak Anda dapat mengeksplorasi minatnya tanpa rasa takut. Anak Anda harus merasa percaya diri dengan kemampuannya, ambisinya, dan yang terpenting, memahami cara bangkit kembali jika ia gagal. Ini membantunya tumbuh sebagai individu, menemukan berbagai sisi identitasnya, memahami bahwa pepatah klise ‘kegagalan adalah batu loncatan menuju kesuksesan’ itu benar, dan bahwa ia selalu dapat mengandalkan Anda.
2. Biarkan Anak Anda Menemukan Identitasnya Sendiri
Mulailah sejak dini – sejak usia muda, biarkan dia mengeksplorasi berbagai pilihan dan minatnya sendiri, asalkan sesuai usia dan aman. Jangan batasi anak Anda untuk mencoba aktivitas yang secara konvensional dianggap spesifik gender. Seorang anak laki-laki bisa menyukai banyak hal yang lebih buruk daripada warna merah muda! Tetap tenang dan sabar saat dia bereksperimen dan memahami apa yang dia sukai dan paling sesuai dengannya. Media saat ini menyediakan banyak informasi yang dilihat dan diintegrasikan anak-anak ke dalam kehidupan mereka, yang dapat mengubah cara mereka membentuk identitas. Pastikan Anda mengetahui informasi digital yang diterima anak Anda, untuk memastikan dia membangun identitasnya dengan cara yang sehat.
3. Hargai Upaya, Bukan Kemampuan
Ketika Anda memuji dedikasi dan usaha anak Anda dalam mencapai sesuatu, bukan bakat bawaannya, hal itu memberinya kesan bahwa selama ia bekerja keras untuk mencapai apa yang diinginkannya, ia dapat meraih tujuan tersebut. Apakah ia memiliki kemampuan alami atau tidak menjadi tidak penting baginya, karena ia akan meluangkan waktu dan usaha tambahan jika diperlukan. Ini membuatnya lebih berwawasan luas dan lebih percaya diri, karena ia menjadi terbuka untuk mencoba berbagai aktivitas yang berbeda.
4. Jaga Agar Rasa Ingin Tahunya Tetap Hidup
Anak-anak selalu penasaran tentang bagaimana dan apa yang terjadi di dunia sekitar mereka. Jangan pernah biarkan sifat yang luar biasa ini mereda, karena hal itu mendorong pembelajaran dan menciptakan peluang pengajaran yang hebat. Jangan mengabaikan pertanyaannya atau menyuruhnya diam; sebaliknya, jawablah dengan hormat, atau tanyakan pendapatnya tentang apa yang dia pikirkan – dan selipkan satu atau dua pelajaran, jika memungkinkan!
5. Mulailah Membangun Kebiasaan Membaca – Tidak Pernah Terlalu Dini
Membaca membuka dunia imajinasi yang tak tertandingi. Tidak hanya merupakan keterampilan hidup yang penting, tetapi membacakan buku setiap hari kepada anak Anda menciptakan ikatan yang indah antara Anda berdua, mendorong perkembangan kemampuan bahasa dan literasi mereka, dan menjadi sesi yang dinantikan oleh Anda berdua! Perkenalkan dia pada cerita-cerita yang mengandung pesan moral dan ajarkan mengapa penting untuk melakukan hal yang benar melalui cerita. Bagi orang tua yang melek teknologi, ada video dan saluran YouTube ramah anak yang dapat Anda tonton bersama mereka; pastikan saja itu tidak menjadi pengganti membaca buku!
6. Memahami Berbagai Gaya Belajar
Tidak setiap anak memiliki daya ingat fotografis; tidak semua anak langsung memahami pecahan pada percobaan pertama. Anak-anak memiliki gaya belajar yang berbeda , dan meskipun sulit bagi guru untuk fokus pada setiap anak di sekolah, Anda dapat mengulang pelajaran anak Anda bersamanya dengan gaya yang sesuai untuknya. Baik itu teknik visual, auditori, atau taktil, atau campuran ketiganya, Anda akan melihat bahwa anak Anda lebih tertarik pada proses belajar setelah ia mampu menghubungkannya dengan materi tersebut!
7. Mendorong Komunikasi
Menjaga komunikasi tetap terbuka antara Anda dan anak Anda sangat penting, karena ia harus merasa dapat mendekati Anda untuk masalah apa pun tanpa rasa takut atau malu. Komunikasi adalah jalan dua arah; anak-anak harus diajarkan cara berbicara, serta mendengarkan orang lain. Dengan anak-anak prasekolah atau yang sedikit lebih besar, Anda dapat meminta mereka untuk mengulangi apa yang telah Anda katakan untuk memastikan bahwa mereka mendengarkan. Bahkan jika mereka tidak mendengarkan, biarkan mereka memberi tahu Anda bahwa mereka tidak mendengar apa yang Anda katakan. Seiring bertambahnya usia, mendengarkan menjadi kualitas yang berharga di lingkungan mana pun.
8. Pastikan Kebiasaan Tidur yang Sehat
Anak-anak membutuhkan istirahat selama masa pertumbuhan mereka. Pastikan anak Anda mendapatkan jam tidur yang cukup sesuai usianya, karena tidur memainkan peran penting dalam mengembangkan kemampuan kognitifnya. Perhatikan apakah anak Anda mengalami kesulitan tidur, sekecil apa pun, karena hal itu dapat memengaruhi kemampuan kognitifnya.
9. Ajak Mereka Berpartisipasi dalam Olahraga Tim
Selain memberikan latihan fisik agar si kecil bergerak, permainan juga mengajarkannya untuk mematuhi aturan, bermain sebagai bagian dari tim, bertanggung jawab atas tindakannya, dan mengembangkan kualitas sportivitas. Permainan mengajarkannya untuk menerima kekalahan dengan lapang dada, dan menanamkan pentingnya latihan untuk menjadi mahir dalam apa yang dilakukannya.
10. Ajari Dia Nilai Persahabatan
Meskipun persaingan di antara anak-anak harus didorong, pastikan persaingan tersebut tetap sehat dan tidak mengajarkan anak Anda untuk merusak hubungan dengan teman-temannya. Ajarkan dia bahwa persahabatan itu berharga, dan bahwa ego atau kebutuhan untuk menjadi lebih baik tidak boleh menjadi penghalang antara dia dan teman-temannya.
Bagaimana Menjadi Anak yang Berwawasan Luas Akan Membantu Anak Anda di Masa Depan
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kesuksesan tidak hanya terkait dengan kecerdasan atau kemampuan otak. Ketika seorang anak mampu mencoba berbagai aktivitas, bekerja keras untuk mencapai tujuannya, bangkit kembali setelah kegagalan, dan menggunakan kekuatannya untuk membantu orang-orang di sekitarnya, ia dapat disebut sebagai anak yang berwawasan luas. Individu seperti itu memastikan bahwa mereka tidak terhambat oleh keterbatasan sumber daya dan memanfaatkan peluang yang datang sebaik-baiknya, sambil juga berkontribusi pada komunitas di sekitar mereka. Mereka mampu mengidentifikasi apa yang mereka kuasai, dan dapat mengandalkan sistem pendukung mereka untuk terus maju. Ketika tiba saatnya menghadapi dunia nyata, anak-anak seperti itu akan mampu menghadapi tantangan yang datang, dan tetap positif!





