Seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kalimantan Barat, melempar bom molotov ke sekolahnya. Penyebabnya disebut dipengaruhi oleh paham True Crime Community, perundungan di sekolah, dan masalah keluarga. Sebelumnya peristiwa serupa terjadi di SMAN 72 Jakarta.
Apa itu True Crime Community? Mengapa kasus yang serupa kembali berulang? Serta bagaimana mencegahnya? BBC News Indonesia mewawancarai beberapa kriminolog dan psikolog.
Peringatan!! Artikel ini berisi konten kekerasan yang dapat mengganggu Anda. Jika Anda, sahabat, atau kerabat memiliki kecenderungan masalah kesehatan mental, segera hubungi psikolog, psikiater atau dokter kesehatan jiwa di Puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Seorang siswa kelas IX melempar bom molotov ke sekolahnya di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada Selasa (03/02).
Ledakan itu terjadi sesaat setelah para murid menyantap makan bergizi gratis (MBG).
Polisi menyebut ada empat petasan yang meledak, untuk memicu bom molotov.
Peristiwa itu membuat murid panik dan dipulangkan ke rumah masing-masing. Seorang siswa dilaporkan terluka akibat kejadian itu.
Aparat menemukan sejumlah barang berbahaya yang diduga akan digunakan untuk aksi lanjutan.
Antara lain lima tabung gas portable yang direkatkan dengan petasan, paku, dan pisau; enam botol berisi bahan bakar minyak dengan sumbu kain yang diduga sebagai bom molotov, serta satu bilah pisau.
Usai kejadian, kegiatan pembelajaran di SMP itu dialihkan sementara ke daring.
Pemkab Kubu Raya pun mengaku akan memperkuat pengawasan dan pembinaan terhadap pelajar serta peran keluarga.
Sementara itu, Kapolda Kalbar Irjen Pol Pipit Rismanto bilang penanganan kasus yang melibatkan anak bawah umur itu akan fokus pada penyelesaian akar masalah.
Dia juga memastikan pelaku akan dibina, dan mengedepankan prinsip ultimum remedium, yakni hukum pidana sebagai upaya terakhir.
Apa latar belakang kejadian itu?
Polisi menemukan, anak berkonflik hukum dalam peristiwa itu terpengaruh oleh komunitas daring, True Crime Community.
Pada tas siswa itu, kata Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, Rabu (04/02), ditemukan tulisan #ZERO DAY dan TCC.
Istilah #ZERO DAY dia sebut kerap digunakan dalam subkultur kekerasan ekstrem untuk menandai hari pelaksanaan serangan.
Selain itu, di tasnya juga tertulis deretan nama pelaku kekerasan dari berbagai negara.
Barang bukti ditemukan dari siswa SMP yang lempar molotov di Kalbar.
Di antaranya adalah Stephen Paddock, pelaku penembakan massal Las Vegas pada 2017; Adam Peter Lanza, pelaku penembakan di Sandy Hook Elementary School pada 2012.
Lalu Seung-Hui Cho, pelaku penembakan Virginia Tech pada 2007; Salvador Ramos, pelaku penembakan di sekolah dasar Uvalde, Texas, pada 2022; serta Luca Traini yang melakukan penembakan bermotif rasial di Macerata, Italia, pada 2018.
Sebelumnya, komunitas online TCC juga dikaitkan dengan kasus peledakan di SMAN 72 Jakarta, yang menyebabkan 96 orang terluka pada pertengahan tahun lalu.
Mungkin Anda tertarik membaca:
- Pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta ‘tergabung dalam grup True Crime Community’, kata BNPT – ‘Dia meniru supaya bisa dibilang hebat’
- Darurat perundungan di Indonesia – ‘Anak saya meninggal karena bullying, apa tanggung jawab sekolah?’
Kepala BNPT, Eddy Hartono, menyatakan, peristiwa itu adalah indikasi terjadinya memetic violence atau kekerasan berbasis peniruan, yang didapat dari TCC.
“Jadi, dia bisa meniru ide perilaku apa yang terjadi sehingga dia meniru supaya bisa dibilang hebat, supaya ada kebanggaan,” kata Eddy.
Faktor lainnya adalah dugaan perundungan (bullying) di sekolah, seperti yang diduga dialami siswa di SMPN 3 dan SMAN 72.
“[Pelaku SMPN 3] memiliki keinginan untuk melakukan balas dendam kepada rekan-rekan yang kerap kali melakukan perundungan terhadapnya,” kata Jubir Densus 88, Mayndra.
Pengaruh lainnya adalah adanya dugaan masalah di dalam keluarga. Kapolda Kalbar Irjen Pipit Rismanto bilang kakek dan ayah siswa SMPN3 itu diketahui sedang sakit.
Apa itu True Crime Community?
True Crime Community (TCC) adalah komunitas daring yang memaparkan narasi tentang kisah-kisah kejahatan nyata yang mengandung unsur ekstremisme dan kekerasan.
Narasi itu itu lekat dengan pengaruh gagasan neo-Nazi, rasisme, dan supremasi ras kulit putih.
Densus 88 menemukan bahwa TCC tidak didirikan oleh tokoh maupun institusi, tetapi tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital.
“Komunitas yang merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional,” kata Kombes Mayndra .




